Posted on June 04, 2026 by admin
Film "Kaki Kita" Sabet Gelar Film Terbaik di SDFC 2020
SINGARAJA — Karya dokumenter Kaki Kita garapan sutradara Ketut Pasek Kusuma Jaya berhasil unggul dan dinobatkan sebagai The Best Film pada ajang Singaraja Documentary Film Competition (SDFC) 2020. Pengumuman pemenang berlangsung pada Selasa malam (8/12) di Puri Seni Sasana Budaya.
Film berdurasi 14 menit 19 detik ini menyisihkan karya-karya lain dari total 10 pembuat film asal Buleleng yang ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Ajang ini digelar atas kerja sama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng dengan Komunitas Mahima. Tujuan kompetisi ini, membuka ruang bagi generasi muda Buleleng yang memiliki minat di dunia perfilman untuk menyalurkan kreativitas mereka.
Kepala Disdikpora Buleleng, Made Astika, menjelaskan bahwa keseluruhan tahapan kompetisi telah berjalan sejak sebulan sebelum malam penganugerahan. Dari 10 peserta yang mendaftar, panitia menyaring lima nominasi terbaik sebelum akhirnya dewan juri memutuskan Kaki Kita sebagai pemenang utama.
Astika berharap kompetisi ini bisa menjadi wadah bagi anak muda Buleleng untuk mengeksplorasi isu-isu di sekitar mereka melalui medium film, sekaligus berharap karya-karya yang lahir dapat memberi nilai edukatif dan menginspirasi generasi muda lainnya. Ia mengaku cukup terkesan dengan kualitas karya peserta meski ini merupakan penyelenggaraan perdana, dan berharap agenda ini bisa berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Penilaian Dewan Juri
Dewan juri kompetisi terdiri atas sastrawan Made Adnyana OLe, pendiri rumah produksi Sang Karsa yaitu Putu Kusuma Wijaya, serta Ketua Asosiasi Dokumentaris Nusantara (ADN) Korda Bali, Dwitra J Ariana. Ketiganya sepakat bahwa karya-karya yang masuk mencerminkan potensi besar para pembuat film muda di Buleleng, meskipun kota ini kerap dipandang sebagai wilayah yang lebih sepi dibanding Bali bagian selatan.
Putu Kusuma Wijaya, yang saat itu tengah menggarap film layar lebar Layonsari Jayaprana, mengungkapkan bahwa penentuan pemenang sempat memicu diskusi cukup alot di antara juri karena kualitas karya yang bersaing ketat.
Sementara itu, Made Adnyana Ole menyarankan agar para pembuat film ke depannya memperdalam riset sebelum memulai produksi. Menurutnya, film dokumenter berkualitas tidak lahir secara instan. Ia menyoroti adanya karya dengan subjek yang sebenarnya kuat, tetapi diproses secara berlebihan sehingga kehilangan keasliannya.
Kisah di Balik "Kaki Kita"
Sutradara Ketut Pasek Kusuma Jaya menjelaskan bahwa film ini mengangkat kisah aksi sosial anak muda Buleleng dalam membantu warga kurang mampu yang menderita luka akibat diabetes. Fokus cerita ada pada Adit dan Beny, dua sahabat pendiri Yayasan Kaki Kita Singaraja (YKKS), yang menyediakan layanan perawatan luka diabetes tanpa biaya sekaligus menggalang dana untuk pengadaan kaki palsu bagi penyandang diabetes yang harus menjalani amputasi.
Pasek, yang berdomisili di Lingkungan Bantang Banua, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng, mengaku memilih tema ini karena tergerak oleh semangat sosial murni dari yayasan tersebut. Ia berharap filmnya dapat menggugah lebih banyak orang untuk turut peduli dan membantu sesama.