SAMPAI detik ini, pertanyaan itu masih mengganggu kepala saya. Apa itu Osmosia? Mengapa kata ini terdengar asing, seolah bukan berasal dari bahasa manapun? Saya mencarinya di kamus, nihil. Saya menelusuri memori, tetap kosong. Namun, justru kekosongan itulah yang membuatnya menggoda. Osmosia, sebuah kata yang seperti hendak menutup diri, tapi di saat bersamaan mengundang kita untuk mendekat.
Tanggal 23 Juni 2025. Malam hari di Seririt. Kedai Cana—sebuah tempat yang akrab bagi para penikmat kopi, musik, di Seririt—malam itu berubah fungsi. Layar putih terpasang, kursi-kursi ditata, dan suasana yang biasanya riuh dengan obrolan santai, kini berubah menjadi ruang menonton sederhana. Ada lima film pendek yang ditayangkan. Namun dari kelimanya, hanya satu yang benar-benar mencuri perhatian saya, Osmosia.
“Ini film eksperimental,” kata teman saya.
Eksperimental. Kata itu saja sudah cukup untuk membuat rasa penasaran saya melonjak. Selama ini, film yang saya kenal lebih banyak mengalir dengan cerita lurus—ada awal, konflik, dan penyelesaian. Namun eksperimental? Saya belum pernah sungguh-sungguh menyelami dunia itu. Maka dengan mobil putih, saya melaju menuju kedai, menatap jalanan malam dan membayangkan seperti apa rupa sebuah film yang disebut eksperimental?
selanjutnya https://tatkala.co/2025/08/17/osmosia-menonton-sebuah-mimpi-yang-tak-ingin-dijelaskan/
Penulis: Gede Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole